Bukan Matematika, bukan pula Bahasa Inggris, melainkan momok para siswa yang tidak lulus di Bali justru berasal dari mata pelajaran Bahasa Indonesia, yang sejak kecil telah diajarkan oleh orangtua. Ironisnya, 70 persen siswa yang tidak lulus gara-gara Bahasa Indonesia kebanyakan berasal dari sekolah negeri.
”Sempat adalah bagian dari kehidupanku Ia mengalir dalam setiap aliran darahku Bergetar di setiap denyut nadiku Seirama dengan tiap denyut nadiku Sempat adalah sebuah kekokohan dan kekuatan bagiku Mereka setegar batu karang di laut lepas Seperti tembok cina yang kuat terbentang di daratan Meski raga dapat tumbang dan rubuh Tapi mereka akan selalu tegak berdiri memendam cita di dalam dada”.
Komentar
Posting Komentar